Jumhur Sasono Dan Kebangkitan Riau Oleh : Elviriadi, Ph.D
reporter | 29 Jan 2026, 17:18 |
BERKILAU.COM โ Apakah yang membedakan orang besar dan orang biasa? Orang besar hendak memanggul penderitaan orang banyak di bahunya, sedang orang biasa merasa beban besar didepan masalah pribadinya.
Betapa pun Mahatma Gandhi di benci Inggris, dan sebagian umat Hindu lantaran familiaritasnya pada muslim India, Ghandi tetaplah hendak merangkum seluruh penderitaan di bahunya.
Begitu lah Muhammad Natsir mengajak indonesia yang setahun jagung kepada Mosi Integral, ditengah intaian re-agresi kolonialisme dan atraksi PKI.
Antara tokoh dan massa rakyat terjadi hubungan interdependensi yang kohesif. Perekat utamanya kadang humanisme dan perikemanusiaan seperti Ghandi, Che Guevara atau Martin Luther. Tetapi di Indonesia kemunculan kiprah sejarah seseorang lahir dari artikulasi dan substansi pesan Islam diwakili HOS Cokroaminoto, H.Agus Salim dan Mr.Muhamnad Roem.
Maka terlihat dengan jelas benang merah geneologi intelektual tokoh Islam dari Roem-Adi Sasono sang Cucu ke Jumhur Hidayat muda.
Jumhur lahir dari kancah kemenularan gerakan pembaharuan Islam di Mesir, Jazirah Arab dan anak benua India yang meluncur ke kampus kampus tanah air.
[Gerakan Pan Islamisnme Abduh, Jejak Ikhwanul muslimin Al Banna yang menginspirasi Kang Imad di Masjid Salman ITB, dan perdebatan alot Bakhtiar Effendi, Daud Rasyid dan Cak Nur turut serta mengkawah Chandradimukai pemikiran Jumhur Hidayat muda.
Maka sewaktu Jumhur dan rekannya menggelar aksi demo di kampus ITB tahun 1989, tampaknya itu bukan sekedar protes biasa, melainkan sebuah auman transendental, profetic mission, pekik eskatologis terhadap perbudakan manusia atas manusia, terlarang dalam spirit dan ruh ajaran Islam.
Terbukti , setelah Soeharto jatuh dan ICMI lahir di bidani Wapres BJ. Habibie, Jumhur tidak memilih jalan struktural, tetapi berbelok memasuki narasi intelektual organik di Celdes bersama Adi Sasono.
Adi Sasono membuat resah pengusaha (baca : Komprador) Asing dan Aseng, karena Selaku Menteri Koperasi dan Usaha Kecil, Adi membatasi hegemoni para lintah darat berkedok devisa investasi.
Dari isu hegemoni dan determinasi ekonomi penghisapan itulah , konvergensi pemikiran Jumhur Sasono menemui momentum dalam praktik kapitalisme Indonesia.
Dalam Bab III Buku berjudul : Bumi Putera Menggugat hal 21, Jumhur lugas mengatakan betapa dahsyat kapitalisme bangsa sendiri, selain cengkaraman asing dan Oligarki.
Bagi Jumhur, dominasi manusia atas manusia lain, dalam pergaulan ekonomi, politik dan relasi kuasa , hanyalah upaya Menuhankan diri para penguasa dan absolutisme kehendak elit politik dan syirik nasional yang sejatinya harus dibasmi.
Ia menghendaki kebebasan berpendapat, menghormati kemanusiaan, keadilan ekonomi, dan perkhidmatan tulus kepada bumi Pertiwi.
Tema tema "kiri Islam" Ala Jumhur, sebagaimana praksis politik Adi Sasono maupun Sosialisme Islam Cokroaminoto semacam itu, tentu saja seringkal berbenturan dengan agenda rekayasa regulasi ekonomi negara yang mendaulatkan cukong dan komprador, sehingga ia harus kembali ke Terali besi 6 tahun lalu.
Bagi seorang Jumhur, UU Ombibus Law, yang dijaga ketat melalui kegarangan senjata dan mania-sensifitas hukum, hanya lah "berhala berhala" modern yang menindas kaum mustad"afien.
Ia teringat ceramah Imaduddin Abdul Rahim yang menyeruak di kampus "salman" ITB , yang menolak tunduk pada "tuhan tuhan palsu" yang hendak memperbudak manusia dan memaksa membungkuk pada kekuasaan.
Maka, gagasan masyarakat Madani dan " kiri Islam" ala Jumhur Sasono, sungguh relevan dengan kondisi Propinsi Riau. Negeri kaya atas bawah minyak, tapi rakyat menderita dan masuk bui lantaran menebang sebatang pohon di areal konflik agraria puluhan tahun.
Riau yang pernah digaungkan hendak Merdeka by Tabrani Rab, hari ini kehilangan jejak, disorientasi dan mengalami "koma" Sosio politik.
Anak anak muda, organisasi Islam dan cendikiawan berkutat pada isu reaksioner produk perdebatan politisi tuna moral, di pentas nasional dan lokal.
Kesenjangan ekonomi terus melebar, hendak ke sungai Bermandi limbah B3, polusi mengintai udara, gambut gersang panas mendera, hutan gundul ladang tiada, dan kemiskinan terus menurun, hingga ke anak cucu cicit negeri Melayu.
Narasi paradoks yang dialami Riau, memerlukan cambuk moral dan teriakan aktivis pergerakan, serta Selaksa lintasan juang Jumhur Sasono.
Raja Alim Raja di Sembah, Raja Zalim Raja di Sanggah. Selamat berjuang Bung Jumhur Sasono;
Editor : Admin