In-memorium Drh.Chaidir MM Politisi Moderat Penyejuk Riau Oleh: Elviriadi - Berkilau.com
Iklan

In-memorium Drh.Chaidir MM Politisi Moderat Penyejuk Riau Oleh: Elviriadi

reporter | 23 Nov 2025, 11:05 | Pekanbaru

In-memorium Drh.Chaidir MM Politisi Moderat Penyejuk Riau Oleh: Elviriadi
Berkilau Watermark

BERKILAU.COM, PEANBARU  โ€“ Drh.Chaidir telah pergi selamanya. Kabar duka membalut Riau. Seorang putra Pemandang, sebuah desa kecil di Rokan Hulu, telah mengukir sejarah diri dikanvas politik dan kebudayaan negeri Melayu. Kuliah dan menimba ilmu organisasi di Yogyakarta, pulang ke Riau mengabdi dan menabur karya.

Saya mengenal Bang Chaidir, - begitu saya biasa memanggil-  sejak masih kuliah di Unri. Waktu ramai aksi mahasiswa tahun 1998 - 2001. Waktu itu bang Chaidir Anggota komisi E DPRD Riau dan sejak 1999 terpilih sebagai ketua DPRD Riau.

Saya bersama massa HMI, KAMMI, PII setelah melakukan aksi longmarch dari makam pahlawan, orasi dan lanjut diterima dialog.

Dalam dialog bersama Anggota DPRD Riau ketika itu yang saya ingat ada Endang Sukarelawan, Mursini, WAN Abu Bakar termasuk Drh Chaidir.

Dari situ lah awal mula terbaca pemikiran moderat Bang Chaidir terlihat karena menampung tuntutan mahasiswa dengan begitu antusias. Analisa, tutur kata , gestuur dan intonasi bang Chaidir mengalun lembut, sesekali diselingi gurau dan senyumnya yang khas.

Pergaulan selanjutnya lebih banyak dalam kancah intelektual. Saya ingat ketika menjadi moderator dalam bedah buku beliau  : Suara Dari Gedung  Lancang Kuning di Aula Dang Merdu dengan Munchtar Ahmad (Wakil Rektor I Unri) sebagai pembedahnya. Begitu pula ketika beliau menjadi salah seorang kontributor Buku Biografi Saya : 26 Tahun Elviriadi, dalam Lensa Kader HMI dan Tokoh Masyarakat Riau.

Yang membuat saya haru, beberapa hari sebelum beliau pergi, Bang Chaidir mengontak saya. Meminta beberapa eksampelar buku yang pernah kami tulis bertiga bersama Edi Saputra Rab, yakni : Geliat Orang Orang Riau, Demokrasi Versi Tiga Kaki Kursi Perubahan, yang sampai hari ini tak tersampaikan.

Sikap Moderat bang Chaidir ditengah polemik DPRD dan arus hegemoni Pemerintah pusat pada awalnya sulit saya pahami.

Saya waktu itu lebih banyak dipengaruhi Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre dari Tabrani Rab yang cendrung radikal, sedangkan Bang Chaidir berpijak pada filsuf Milan Kundera dan Cicero yang platois.

Belakangan baru saya memahami moderasi politik yang diayunkan Chaidir untuk menghindari korban pembangunan (victim of development).

Chaidir menyadari, bahwa menegakkan konstitusi dan keadilan rakyat pastilah membentur tirai besi. Negeri ini memang ada penguasanya, tapi penguasa berkoalisi dengan pengusaha untuk membuat rakyat menderita. Lembaga Lembaga tinggi dan birokrasi memang bekerja, namun mengabdi pada pemilik modal dan manusia serakah.

Maka, Chaidir menghadirkan ruang dialektis berbagai kepentingan dan segmen. Bergaul dengan masyarakat semua lapisan sambil menebar senyum lebar.

Agaknya, jalan tengah  kearifan begitu rupa, sedikit banyaknya, tentulah  memberikan hal yang bermakna.

Riau ditengah pertarungan kepentingan dan perebutan asset semberdaya alam, merindukan sosok Chaidir dengan gaya dialogis, membuat lentur suatu  ketegangan dan pertelagahan, sehingga equilibrium sosial ekonomi politik dimungkinkan.

Kata kata dan kehadirannya yang santun, menghargai kawan dan lawan, sememangnya menyejukkan Riau.

Selamat jalan kakandaku, Bang Chaidir.

Iklan

Editor : Admin

#
Iklan

Komentar